AWAS !!! KABAR BURUNG
2008-03-14 00:00:00
Oleh: Syaikh Dr Abdul Azim Badawi
Allah berfirman.
“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang
kepada kalian membawa berita, hendaklah kalian teliti” [Al-Hujurat : 6]
Maksudnya : Jangannlah kalian terima beritanya, sampai kalian teliti dan membuktikan kebenarannya.
Pada ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bahwa hukum asal orang
fasik adalah dusta, akan tetapi ada kemungkinan dia jujur, maka dari
itu berita yang dibawanya tidak langsung diterima atau ditolak, kecuali
setelah dilakukan penelitian atas kebenaran berita tersebut. Jika telah
jelas kejujurannya melalui bukti dan keterangan yang ada, maka
beritanya diterima, akan tetapi jika sebaliknya, maka beritanya di
tolak.
Kemudian Allah menjelaskan hikmah dari perintahNya untuk melakukan
pengecekan kebenaran suatu berita, serta hikmah laranganNya dari
mengekor kepada isu dan kabar burung seraya berfirman.
“Artinya : Kalian menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya” [Al-Hujurat : 6]
Maksudnya : Kemudian ternyata kalian yang salah dan kaum tersebut tidak bersalah apa-apa.
“Artinya : Sehingga kalian akan menyesali perbuatan kalian” [Al-Hujurat : 6]
Terlebih , apabila perbuatan kalian tersebut menyebabkan
punggung-punggung kalian dicambuk, karena mungkin tuduhan kalian itu
menyebabkan hukuman tertentu, seperti tuduhan zina dan sebagainya.
Betapa perlunya kaum muslimin semuanya kepada ayat ini, mereka
membacanya, merenunginya dan berperangai dengannya. Berapa banyak
tragedi terjadi karena sebuah berita bohong yang disebarkan oleh
seorang fasik lagi membuat onar?! Betapa banyak darah yang ditumpahkan,
nyawa berterbangan, harta benda dirampas, kehormatan dicabik-cabik,
disebabkan oleh sebuah berita bohong yang sama sekali tidak ada
buktinya.
Semua itu digulirkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk
memusnahkan persatuan mereka, mencabik-cabik kekuatan mereka, serta
menghembuskan permusuhan dan kebencian diantara mereka?!
Betapa banyak dua orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita
bohong?! Berapa banyak pasangan suami istri dipisahkan oleh
berita-berita dusta?! Dan berapa banyak pula peperangan antara suku dan
umat karena berita-berita palsu?!
Allah Yang Maha Halus dan Mengetahui memberi kaidah syariat untuk umat
ini, agar masyarakat ini tidak dirobek-robek, tidak dipecah belah dan
api fitnah tidak berkobar didalamnya, yang apabila telah berkobar tidak
akan bisa dipadamkan.
Sungguh, di antara perkara yang sangat disayangkan adalah, bahwa tidak
satupun masyarakat kaum muslimin bebas dari kaum munafiq dan pendengki,
mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah merasa tenang, jika
melihat masyarakat muslimin saling berkasih sayang, bersaudara serta
merasa sebagai satu kesatuan, sehingga apabila seorang yang biasa dari
mereka, maka yang memiliki kedudukan pun ikut mengeluh.
Wajib bagi kaum muslimin untuk mempertajam kewaspadaan mereka dan
berhati-hati terhadap musuh mereka, serta hendaknya kaum muslimin
senantiasa mengingat, bahwa musuh-musuh mereka selalu begadang untuk
menyusun rencana dan makar terhadap kaum muslimin. Maka dari itu kaum
muslimin harus senantiasa waspada sehingga bisa mengetahui darimana
munculnya permusuhan dan bagaimana kebencian di antara mereka
dikobarkan!!
Sesungguhnya, keberadaan orang-orang munafik di dalam masyarakat Islam
merupakan bahaya laten yang besar, akan tetapi lebih berbahaya dari itu
adalah adanya orang-orang beriman yang senantiasa menerima dikte dari
kaum munafik, mereka juga mau mendengar gosip-gosip kaum munafik,
bahkan mengekor di belakang pendapat dan sepak terjang kaum munafik,
tanpa menghiraukan dampaknya terhadap kaum muslimin.
Al-Qur’an telah mencatat untuk kita sebagian bencana yang menimpa kaum
muslimin, akibat mengekornya sebagian kaum muslimin dibelakang kaum
munafik, para pedengki, sehingga kita bisa memetik hikmah dari
pengalaman orang-orang sebelum kita.
Jika berkenan, maka bacalah surat An-Nuur, kemudian renungilah beberapa
ayat mulia yang Allah firmankan untuk mengumumkan kesucian Ummul
Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha dari tuduhan kaum munafik, dan
ternyata beberapa orang yang benar-benar beriman ikut-ikutan menuduh
tanpa bukti.
Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong” [An-Nuur : 11]
Maksudnya : Kebohongan, ifik seburuk-buruk dusta, dinamakan ifik karen
dipalingkan dari kebenaran. Diambil dari perkataan : “afaka asy-syaia”
jika dia memalingkan dari keadaan yang sebenarnya.
Karena Aisyah Radhiyallahu ‘anha berhak mendapat pujian, karena beliau
adalah seorang wanita yang terpelihara dan mulia, siapa saja yang
melemparkan tuduhan buruk kepadanya, maka hakekatnya dia membalik suatu
perkara dari kenyataannya. [1].
“Artinya : Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu” [An-Nuur : 11]
Maksudnya : Wahai keluarga Abu Bakar, janganlah kalian mengira bahwa fitnah atas kalian itu suatu keburukan bagi kalian.
Allah berfirman.
“Artinya : Bahkan ia adalah baik bagi kamu” [An-Nuur : 11]
Janganlah menilai segala perkara dari lahiriyahnya saja, karena
terkadang berita datang dalam bentuk yang buruk, tapi jangan disangka
bahwa yang menimpa kalian adalah keburukan, bahkan itu merupakan
kebaikan bagi kalian.
Kebaikan pertama adalah, Allah menyebutkan kalian dihadapan para
malaikat, dan Allah turunkan beberapa ayat yang senantiasa dibaca
berkenaan dengan perkara kalian.
Kedua, dengan turunnya ayat ini, mendung menjadi sirna, kegelapan
tersingkap, serta lenyaplah gunung kesedihan di dalam hati Ummul
Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, di dalam hati suaminya, yaitu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayahnya yaitu Abu Bakar Radhiyallahu
‘anhu, demikian juga sahabat Rasulullah yang terpercaya sebagai
tertuduh dalam fitnah ini bersama Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Shofwan
bin Al-Mu’ththil Radhiyallahu ‘anhu, kemudian ayat-ayat tersebut
membimbing kaum mukminin dalam menghadapi berbagai isu, serta bagaimana
menyikapi kedustaan dan para pendusta, maka Allah berfirman.
“Artinya : Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu
orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri
mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata : Ini adalah suatu berita
bohong yang nyata” [An-Nuur : 12]
Inilah langkah awal yang harus anda ambil, jika sampai kepadamu sebuah
berita buruk tentang saudaramu, hendaklah anda renungi diri anda
sendiri, jika anda berbaik sangka terhadap diri anda dan berusaha
menolak tuduhan-tuduhan tersebut, maka anda juga wajib berbaik sangka
terhadap saudaramu serta berusaha menolak tuduhan-tuduhan atas diri
saudaramu, seraya anda katakan.
“Artinya : Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar” [An-Nuur : 16]
Tidak mungkin saudaramu berkata atau berbuat sedemikian buruk. Inilah
sikap yang diambil oleh sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika sampai kepada mereka berita buruk tentang Aisyah
Radhiyallahu ‘ahna.
Dari Abi Ayyub Al-Anshari, beliau menceritakan bahwa :
Ummu Ayyub bertanya : Wahai Abu Ayyub, apakah anda tidak mendengar perbincangan manusia tentang Aisyah ?
Abu Ayyub : Iya, itu adalah suatu kedustaan, apakah kamu pernah melakukannya, wahai Ummu Ayyub?
Ummu Ayyub : Tidak, demi Allah, aku tidak akan pernah melakukannya.
Abu Ayyub : Demi Allah Aisyah lebih baik dari kamu [2]
Kemudian Allah berfirman.
“Artinya : Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat
orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak
mendatangkan saksi-saksi. Maka mereka itulah pada sisi Allah
orang-orang yang dusta” [An-Nuur : 13]
Inilah langkah kedua yang harus diambil oleh setiap muslim jika sampai
kepadanya tuduhan buruk kepada saudaranya muslim. Langkah pertama
adalah mencari dalil batin, yaitu berbaik sangka kepada saudaranya
muslim. Langkah kedua adalah mencari bukti nyata.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita. Maka periksalah dengan teliti” [Al-Hujurat
: 6]
Maksudnya : Mintalah kepada sang pembawa berita bukti kebenaran kabar
yang dia bawa, jika ada buktinya maka bisa diterima, dan jika tidak
membawa bukti, maka berita tersebut di tolak, karena dia adalah orang
yang fasik dan pendusta, kemudian semua pihak tidak menyebarkan berita
bohong tanpa bukti, dengan cara ini berbagai isu akan mati dan dikubur
di dalam dada para provokator, karena tidak seorangpun yang mempercayai
mereka.
Demikian Al-Qur’an mendidik pengikutnya, akan tetapi sangat
disayangkan, akan anda saksikan mayoritas kaum muslimin tidak
menerapkan bimbingan ini, terbukti ketika seorang munafik pendengki
menebarkan berita bohong atas seorang muslim maka dengan cepat tersebar
luas ditengah masyarakat muslim, berpindah dari satu lidah ke lidah
yang lain tanpa di cek dan di renungi, sebagaimana disindir oleh Allah.
“Artinya : (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari
mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu
ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja,
padahal dia pada sisi Allah adalah besar” [An-Nuur : 15]
Secara asal perkataan itu berpindah melalui pendengaran bukan dengan
lidah, akan tetapi Allah mengungkapkan kecepatan penyebaran yang luar
biasa dengan berpindah melalui lidah, seakan-akan dari suatu lidah ke
lidah yang lain tanpa melalui pendengaran yang menghubungkannya dengan
hati, padahal hati berfungsi memikirkan apa yang didengar, kemudian
ditimbang perlu tidaknya untuk disebarkan.
Allah berfirman.
“Artinya : Dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit saja” [An-Nuur : 15]
Juga tidak berdalil.
“Artinya : Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar” [An-Nuur ; 15]
Setelah Allah memberikan bimbingan kepada kaum muslimin adab-adab ini,
Allah juga mengajarkan bagaimana menyikapi berbagai isu tersebut, dan
membunuhnya sebelum tumbuh besar, sehingga tidak menyebar di masyarakat.
Kemudian Allah memperingatkan kaum mukminin agar tidak sibuk dengan
sesuatu yang mereka tidak memiliki ilmu tentangnya. Demikian pula Allah
memperingatkan kaum mukminin agar tidak mengekor di belakang para
pendusta dan penebar isu-isu bohong, seraya berfirman.
“Artinya : Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat
yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman”
[An-Nuur ; 17]
Kemudian Allah mejelaskan, bahwa mengekor di belakang para pendusta dan
penebar isu-isu bohong hakekatnya adalah mengikuti langkah-langkah
setan . Allah berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaithan, barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah
syaithan. Maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan
yang keji dan yang mungkar, sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan
rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu
bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya,
tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”[An-Nuur : 21]
Allah juga menyatakan bahwa lisan dan segenap anggota badan akan bersaksi atas setiap hamba pada hari kiamat, Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik,
yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia
dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika),
lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa
yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka
balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa
Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut
hakikat yang sebenarnya)” [An-Nuur : 23-25]
Wahai penebar berita bohong ! wahai penelan fitnah ! wahai orang yang
tidak senang melihat dua orang saling mencintai kecuali pasti berupaya
untuk memisahkannya ! wahai orang yang ingin mencela orang-orang yang
tidak berhak di cela ! tahanlah lisanmu ! karena sesungguhnya anda akan
diminta pertanggung jawaban atas setiap ucapanmu.
“Artinya : Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaaf : 18]
Berhati-hatilah dengan perkataan dusta, menyebarkan isu bohong, menuduh
orang muslim tanpa bukti, berprasangka buruk terhadap kaum muslimin !!!
Seakan-akan saya bersama anda (orang yang merugi) pada hari kiamat,
hari penyesalan, musuhmu menuntutmu seraya mengatakan : Anda telah
mendholimiku, yang lain mengatakan : Anda mencelaku, lawan yang lain
mengatakan : Anda melecehkanku, lawan yang lain mengatakan : Anda
mempergunjingkanku dalam perkara yang tidak kusukai.
Ketika itu posisi anda begitu lemah dihadapan mereka, sehingga anda
benar-benar berharap kepada Allah untuk membebaskanmu dari tuntutan
mereka, terlebih ketika anda mendengar firmanNya.
“Artinya : Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang
diusahakannya, tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya
Allah amat cepat hisabnya” [Al-Mukmin : 17]
Maka engkau merasa yakin akan kebinasaanmu, dan anda teringat firman Yang Maha Agung dan Pengampun.
“Artinya : Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak” [Ibrahim : 42]
Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan, kita memohon hidayah dan taufiq dari-Nya.
[Dialihbahasakan oleh Imam Wahyudi Lc dari Majalah Al-Asholah, edisi 34]
[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah Vol. 5. No. 7 Edisi
31- Jumadil Akhir 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy
Surabaya, Alamat : Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
__________
Foote Note
[1]. Tafsir Al-baghowi 4/181
[2]. Tafsirul Qur’an Al-Adhim 3/273
Courtesy of almanhaj.or.id